Menyikapi Sopan Santun Satu Pihak : Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa

KOMUNIKASIKOMUNIKASI PENDIDIKANPENDIDIKAN

Muhammad Rafie Akbar

7/12/20223 min baca

Ketika berada di bangku perkuliahan, kita dihadapi oleh situasi di mana proses belajar mengajar melibatkan dosen dan para mahasiswanya. Di tengah masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi keramahan dan sopan santun, tetap saja di dalam proses komunikasi yang dilakukan tidak menampakkan diri dalam melaksanakan nilai-nilai yang seharusnya dilakukan tersebut. Melalui tulisan ini, saya menganalisis hal tersebut berdasar pada pengalaman pribadi dan beberapa kasus yang terjadi dengan teman mahasiswa yang saya kenal sehingga dapat diperhatikan objektivitas dari komunikasi yang “seharusnya” dilakukan.

Sopan Santun Hanya Kewajiban Mahasiswa?

Seperti yang diketahui, komunikasi yang layak sangat penting dalam kehidupan manusia agar memperoleh tujuan yang diinginkan. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari hakikat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang berperan penting dalam masyarakat. Ketika berada di lingkungan masyarakat yang berbasis pada pendidikan, tentunya hal ini dapat dicontohkan pada lingkungan kampus ataupun universitas, yang mana melibatkan dosen dan mahasiswa.

Agar tidak mendapati hasil dari komunikasi yang dilakukan berhasil, seperti mengingatkan akan diadakannya perkuliahan, mencari informasi lebih lanjut, serta hanya sekadar konsultasi mengenai studi, mahasiswa yang penuh dengan kesadaran tentunya melihat posisi dan keberadaan mereka sebagai orang yang “butuh” dengan dosen tersebut. Hal ini yang cukup dapat dikatakan bagaimana sopan santun yang didorong oleh mahasiswa perlu dilakukan agar tidak terjadi miskomunikasi yang tidak diinginkan dapat membuka celah kesalahan yang lain.

Sebagai contoh, ketika seorang perwakilan mahasiswa ingin mengabari dosen yang bersangkutan untuk mengkonfirmasi apakah kelas akan dilaksanakan atau tidak, tentunya di tengah teknologi yang berkembang kini tidak dapat dipungkiri mahasiswa tersebut menghubungi dosen melalui fitur pesan ataupun telepon dari WhatsApp, SMS, atau aplikasi lainnya. Hal yang menjadi permasalahan adalah ketika mengirimkan pesan yang dimaksud sudah dengan mengucap salam, menyapa selamat pagi/siang, hingga langsung menyampaikan maksud dan tujuan, ada beberapa dosen yang tidak mengedepankan kesantunan yang sama.

Lebih lanjut lagi, hal tersebut tentunya tidak berlaku bagi para dosen yang langsung menghubungi para mahasiswanya tidak mengenal waktu dan cenderung memaksa untuk segera cepat mendapatkan keinginan yang diinginkannya. Sebagai contoh, menghubungi mahasiswa ketika sudah waktunya istirahat, tidak melihat kondisi dan halangan yang sedang dihadapi oleh mahasiswanya walaupun sudah dijelaskan, hingga tidak menghargai usaha yang telah dilakukan para mahasiswanya yang sudah secara keras menjaga sopan santunnya.

Tentunya hal ini sangat disayangkan, sebagai individu yang berada di tengah masyarakat yang ramah dan cenderung menghargai, tidak mendapatkan hasil luaran yang sama bahkan dari pendidik itu sendiri. Kita tentunya mengenal berbagai prinsip yang seharusnya dijunjung tinggi, bahkan sering dikoar-koarkan di dalam lingkungan akademik seperti “sopan santun adalah yang terpenting” dan “adab berada di atas ilmu”, tidak seluruh pendidik yang dimaksud dapat memberikan contoh yang layak. Sebagai makhluk yang beradab, tentunya tidak memandang siapapun orangnya dan siapapun keturunannya, kita harus mengedepankan sopan santun hingga komunikasi yang terjalin dapat berlangsung secara terhormat dan penuh keramahan.

Keramahan Apa yang Perlu Didorong?

Dari sekian banyak kasus yang terjadi di berbagai universitas, tentunya tidak seluruh dosen melakukan hal yang sama. Dapat dilihat pula terjadi berbagai kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri sehingga respons yang diberikan oleh sang dosen tidak seperti yang diharapkan, dengan ringkas seperti :

  1. Mahasiswa ketika melakukan percakapan sedari awal tidak mengedepankan kesantunan, sehingga dosen yang menilai langsung tidak ingin merespons lebih lanjut.

  2. Mahasiswa tidak mengikuti saran yang diberikan oleh dosen, sehingga dosen akhirnya tidak ingin menindaklanjuti.

  3. Mahasiswa memberikan tenggang waktu yang tidak masuk akal (dalam konteks mengejar sesuatu kegiatan), tentunya hal ini didorong oleh berbagai faktor lainnya atas “mengapa” dapat terjadi hal seperti itu.

  4. Mahasiswa tidak berargumen secara fakta dan kenyataan serta tidak jujur, sehingga dosen akhirnya kehilangan kepercayaan.

  5. Mahasiswa tidak to the point atas niatan apa yang diinginkan sehingga menghubungi beliau, tentunya hal ini cukup membuang waktu apabila tidak dilakukan.

Keramahan yang perlu dibangun atas hubungan dosen dengan para mahasiswanya harus dilandasi oleh sifat saling menghargai satu sama lain. Di antara berbagai kasus yang ada, tidak jarang pula akhirnya banyak berujung pada hal yang tidak masuk akal seperti pelecehan seksual, pembungkaman pendapat mahasiswa, hingga ancaman nilai menakuti para mahasiswa. Hal itu tentunya harus didorong oleh sifat dan moral akademik yang perlu dijunjung dengan benar.

Sebagai mahasiswa pula, tentunya harus mengerti posisi dan kapasitas yang ada dengan mendorongkan diri untuk tetap menerima apa yang perlu dilakukan. Walaupun tidak secara holistik perlu diikuti, tentunya tetap perlu adanya kesadaran yang mendalam untuk menghargai jerih payah dan waktu sang dosen yang mungkin dipadatkan oleh berbagai jadwal yang ada.

Konklusi dan Solusi

Berkomunikasilah dengan para dosen selayaknya sedang berbicara dan bersikap dengan orangtua pribadi. Dalam kenyataannya apabila tidak mengalami timbal balik sikap menghargai yang sama, setidaknya kita sudah menunjukkan diri kita sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai kesabaran, kesopanan, dan kesantunan. Dari hal ini, tentunya sebagai mahasiswa kita harus dapat menyikapinya secara tarik ulur dengan apa yang perlu dilakukan, tentunya dengan batas-batas tertentu. Ilmu yang diberikan oleh para dosen tentunya sangat penting bagi kehidupan di masa mendatang.

Hingga akhirnya, saya melihat permasalahan komunikasi yang terjadi tidak lain salah satunya didorong oleh generation gap yang menampakkan akibatnya. Dosen yang terlalu tua dan tidak ingin mengubah cara mengajar dan berhubungan dengan para mahasiswanya tentunya terjebak dalam pola-pola tradisional yang satu arah dan cenderung memaksa, bahkan terkadang ada pula yang menyelipi nilai-nilai korupsi. Dapat diakui para dosen muda yang kini sedang berjuang dalam mengajar lebih dapat beradaptasi dengan generasi mahasiswa yang tidak jauh dengan umurnya. Tentunya, hal tersebut tergantung pada diri masing-masing dosen dan mahasiswa itu sendiri yang tetap selalu ingin menjunjung kehormatan masing-masing.

Kontak Kolaborasi

Saya menyambut kolaborasi penelitian, diskusi ilmiah, serta berbagai peluang kerja sama yang relevan dengan bidang keahlian dan minat saya.

© 2012 - 2026. Muhammad Rafie Akbar.
Hak cipta dilindungi undang-undang.