Keselarasan Jasmani dan Rohani : Solusi untuk Pendidikan Berkualitas bagi Generasi Z
PENDIDIKANKEBIJAKAN PENDIDIKANHUKUMHUKUM INTERNASIONAL


Hidup di dunia yang penuh dengan tantangan memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang ada di muka bumi. Makna tersebut dapat direnungi dan dipahami dengan pengalaman serta pemikirannya masing-masing. Proses pendidikan menjadi faktor yang paling berpengaruh atas pengalaman dan pemikirannya tersebut. Bagi Generasi Z, tentunya dunia yang dimilikinya kini tidak hanya berpatokan pada kenyataan secara fisik dan setiap kegiatan yang berbasis pada tatap wajah. Sedari itu, Generasi Z memiliki keistimewaan yang tiada tara sebagai generasi yang hidup berdampingan dengan adanya perkembangan pesat dari teknologi canggih. Sehingga, makna dari hidup yang mereka miliki tidaklah sebatas tantangan yang ada di depan mata atas dunia nyata. Namun, juga termasuk pula pada kehidupan dan tantangan mikro hingga global yang ada di layar gawai pintar yang mereka miliki.
Generasi Z adalah kelompok demografis yang mengikuti Generasi Milenial dan mendahului Generasi Alpha. Peneliti dan media populer menggunakan awal hingga pertengahan tahun 1990-an sebagai tahun kelahiran awal dan awal tahun 2010-an sebagai tahun kelahiran akhir dari Generasi Z. Serta pun dapat dipahami bahwa sebagian besar anggota dari Generasi Z adalah keturunan dari Generasi X atau Baby Boomers. Pemahaman tentang generasi sosial ini berbasis pada apa yang dipahami oleh dunia barat sebagai division of social generations. Lahir di tengah kemudahan akses global tidak pula bermakna bahwa kehidupan mereka tidak memiliki kesulitan. Tantangan di hadapan mereka pun memiliki spesialitas yang tidak terduga.
Masalah Masa Depan
Masalah masa depan yang berkelanjutan memiliki arti bahwa setiap generasi ke generasi selanjutnya memiliki nilai-nilai yang keberlanjutan atas bagaimana hidup di dunia serta solusi yang bisa ditawarkan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Tidaklah menjadi bahasan yang berat bahwa manusia hidup di dunia, mempunyai kebutuhan yang perlu dipenuhi, dengan satu sisi lain memiliki nilai-nilai serta etika yang perlu dibangun. Pada tahun 2015, United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Majelis Umum PBB, mengadopsi Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai usaha keberlanjutan untuk kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia. Hal ini merupakan sejarah yang penting, di mana sebelumnya pembangunan berkelanjutan pertama kali diinstitusionalisasikan melalui Proses Rio yang dimulai pada Konferensi Bumi tahun 1992 di Rio de Janeiro serta melanjutkan tugas dari adanya Millennium Development Goals (MDGs). Diketahui terdapat 17 tujuan yang ada, di antaranya mencakup mengatasi tantangan-tantangan global seperti kemiskinan, ketidaksetaraan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, perdamaian, dan keadilan.
Sudah sepatutnya SDGs yang disosialisasikan tersebut dipahami sebagai usaha bangsa-bangsa dunia dalam menjaga masa depan yang sehat bagi semua manusia yang ada di berbagai tempat. Generasi Z tentunya perlu memahami nilai- nilai yang ada di dalam SDGs tersebut. Tentunya, menjadi generasi yang bisa menyebarkan inspirasi dan teladan memerlukan upaya-upaya yang tidak sederhana. Terlebih di tengah tantangan-tantangan yang ada. Oleh karena itu, diperlukan solusi atas masalah yang ada di depan mata. Terlebih lagi, Generasi Z adalah salah satu generasi yang akan memimpin masa depan. Tidaklah mungkin generasi ini dipersiapkan setengah-setengah dengan sumber daya yang seadanya.
Keselarasan jasmani dan rohani menjadi kekuatan yang bisa diutamakan. Selaras adalah harmonisasi, pun juga sepadan. Jasmani dan rohani saling melengkapi dalam membentuk diri generasi manapun. Dorongan dan persiapan ini pun perlu diperhatikan secara lebih dalam kepada Generasi Z. Tentunya dengan kesepadanan yang perlu dilihat sebagai bentuk yang layak, dalam hal menciptakan tubuh dan jiwa yang sehat bagi para anggota generasi ini. Setiap tubuh yang dimiliki seorang manusia, memiliki jiwa yang sehat di dalamnya. Jiwa tersebut terwujud positif apabila seseorang yang memilikinya mempunyai kehidupan yang sehat dan teratur. Tidaklah dapat dipungkiri bahwa setiap orang yang memiliki badan yang sehat, mempunyai jiwa yang sehat pula.
Tantangan Global : Penuh dengan Masalah Ketidaksetaraan
Di tengah tantangan global, Generasi Z menghadapi berbagai permasalahan dari satu masalah hingga konflik batin yang menghadapi mereka. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tantangan mereka di zaman ini memiliki spesialitas yang tinggi. Tidak pula dapat dipungkiri bahwa masalah ini pun terimbas dari masalah- masalah yang tidak terselesaikan pada generasi sebelumnya. Dari berbagai masalah yang ada, masalah yang dihadapi tersebut diakibatkan oleh ketidaksetaraan global yang pada ujungnya mempengaruhi kondisi jasmani dan rohani mereka. Jika diperhatikan, banyak badan dari Generasi Z yang tidak proporsional hingga kesehatan mental mereka yang terganggu.
Ketidaksetaraan global, yang mencakup perbedaan ekonomi, pendidikan, akses kesehatan, dan peluang, telah menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi dunia saat ini. Generasi Z, dengan akses mudahnya ke informasi melalui internet, semakin sadar akan ketidaksetaraan ini. Mereka harus diilhami untuk bertindak dan menjadi agen perubahan dalam menciptakan dunia yang lebih adil. Keselarasan jasmani dan rohani menjadi fondasi penting dalam proses ini. Jasmani mencakup kesehatan fisik, kebugaran, dan kesejahteraan tubuh, sementara rohani mencakup nilai-nilai, etika, dan kesejahteraan emosional. Keselarasan ini membantu Generasi Z memahami pentingnya menjaga kesehatan fisik mereka agar memiliki energi dan daya tahan untuk berkontribusi pada perubahan positif di dunia, sementara juga merawat kesehatan mental dan nilai-nilai positif.
Permasalahan atas kondisi jasmani dan rohani di dunia pendidikan dapat dikatakan sangat pelik. Padahal, SDGs memiliki salah satu tujuan yang disebut quality education di dalamnya. Pendidikan yang berkualitas di seluruh dunia tidaklah terlepas dari bagaimana proses pendidikan tersebut dapat dilaksanakan. Jika masih ada masalah-masalah menyangkut fisik yang berpengaruh pada kualitas tubuh manusianya, ini adalah polemik yang sangat besar. Manusia membutuhkan tubuh yang kuat untuk menuntut ilmu, pun otak yang cerdas memerlukan nutrisi yang cukup dan sepadan dengan apa yang akhirnya ingin dicapai dengan proses pembelajaran. Namun, tak jarang pula masalah-masalah sosiologis dan psikologis sangat berpengaruh dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas bagi semuanya. Beberapa permasalahan yang timbul di antaranya adalah masih eksisnya diskriminasi dan ketidakpedulian atas kesehatan mental.
Masalah-masalah tersebut timbul akibat tidak pastinya masyarakat dunia peduli akan isu ini. Generasi Z pun dalam konteks kemanusiaan juga berhak atas akses kepada pendidikan, seperti banyak orang-orang hebat lahir di generasi sebelumnya. Pendidikan yang diharapkan pun perlu didorong dengan adanya kebijakan yang dilahirkan dari bawah ke atas (bottom to up) dan kebijakan yang diputuskan dari atas ke bawah (up to bottom). Maksudnya, dalam hal ini masyarakat dunia perlu mendorong berbagai pemerintahan di dunia untuk memperhatikan secara pasti bagaimana mereka menerima kritik dari kalangan masyarakat terbawah sekalipun, serta memberikan solusi atas masalah-masalah yang ada di dunia pendidikan.
Keselarasan Jasmani dan Rohani Menjadi Kunci
Sustainable Development Goals (dok. United Nations)
Telah disampaikan bahwa pendidikan yang berkualitas tersebut dipengaruhi oleh jasmani dan rohani manusia yang terlibat di dalamnya. Generasi Z rata-rata kini sedang berada di kursi perkuliahan dan sekolah. Perlu pandangan yang objektif dalam sejauh apa PBB telah mengadopsikan SDGs ke seluruh dunia, utamanya terkait dengan jasmani dan rohani untuk para Generasi Z. Tujuan-tujuan yang ada tersebut tentunya diimplementasikan oleh berbagai negara kepada masyarakatnya. Beberapa tujuan yang terdapat dalam SDGs yang berkaitan dengan jasmani adalah : zero hunger; good health and well-being; dan clean water and sanitation. Sedangkan tujuan-tujuan SDGs dalam aspek rohani adalah : gender equality dan reduced equalities.
Dunia tidak seindah yang dapat diperkirakan. Salah satu sisinya, memiliki kualitas manusia yang sehat dan sejahtera. Namun di sisi lain, pastinya banyak hal-hal katastropik yang dihadapi oleh orang-orang di dalamnya. Masalah yang dapat terjadi berhubungan pula pada tujuan SDGs yang telah disebut sebelumnya. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas, perlu dilakukan keselarasan jasmani dan rohani yang ada.
Dimulai dari aspek jasmani, adalah terwujudnya zero hunger (tidak ada kelaparan) yang menjadi tujuan kedua dalam daftar tujuan SDGs. Menurut Food and Agricultural Organization (FAO), pada 2022 ada sekitar 735,1 juta orang yang mengalami kelaparan di berbagai belahan dunia, setara dengan 9,2% dari total populasi global. Masalah makanan adalah isu yang sangat berat dan menyangkut pada bagaimana perkembangan tubuh dan pikiran manusia. Generasi Z yang terdampak pada kekurangan makanan yang diakibatkan oleh kemiskinan, tentunya menjadi masalah besar yang perlu diselesaikan. Dunia harus melihat dengan mata terbuka, bahwa masalah perut adalah bencana. Kehilangan manusia-manusia berkualitas karena tidak memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan mereka adalah taruhan yang besar.
Selain itu, good health and well-being (kesehatan yang baik dan kesejahteraan) yang menjadi tujuan ketiga dari daftar tujuan SDGs adalah aspek jasmani yang sangat hebat. Generasi Z dalam konteks untuk meraih keberhasilan, memerlukan tubuh dan kesejahteraan. Hal itu perlu diperhatikan oleh setiap individu dan di satu sisi juga didukung oleh Pemerintah. Dalam hal ini, Generasi Z yang merupakan anggota dari masyarakat pun perlu berolahraga, menjaga kebersihan, hingga mencegah hal-hal yang merugikan badan. Dengan tambahan, Pemerintah pun harus menguatkan kebijakannya di bidang kesehatan. Dari jaminan kesehatan bagi setiap orang, hingga akses kepada kesehatan publik yang layak. Tidaklah mungkin Generasi Z dapat belajar dengan baik apabila tubuh yang dia miliki tidak mampu bergerak dan melakukan aktivitas tersebut.
Hingga terdapat pula tujuan clean water and sanitation (air bersih dan sanitasi). Tujuan keenam dalam SDGs ini berbasis pada akses penyediaan kepada air bersih dan sanitasi yang sehat. Manusia sangat membutuhkan air dalam melakukan segala aktivitas dalam kehidupannya, baik air untuk diminum ataupun air yang dapat digunakan sebagai penunjang pekerjaan. Dalam konteks untuk menciptakan pendidikan berkualitas bagi Generasi Z, telah menjadi hal yang sangat konkret untuk diketahui bahwa air sangat perlu untuk menunjang kebutuhan- kebutuhan yang telah disebutkan sebelumnya. Mustahil para manusia yang tergolong dalam Generasi Z pun yang berhadap kualitas otak dan pikirannya baik, apabila hal sederhana seperti penyediaan air pun tidak dapat dijangkau.
Selain berfokus kepada jasmani, bagian yang perlu diselaraskan adalah rohani. Rohani dapat dilihat dalam diri manusia, baik melalui kepercayaan, agama, maupun aspek spiritual lainnya yang dapat membentuk dirinya. Generasi Z tentunya harus memiliki rohani yang sehat, baik secara psikis maupun mental.
Masalah-masalah psikologis dan sosiologis dapat terjadi apabila dihubungkan dalam pencapaian keselarasan jasmani dan rohani. Sekiranya dapat diperhatikan di mana kesehatan mental sangat perlu diperhatikan, di mana mental manusia sangatlah rentan menerima trauma atau masa lalu yang buruk dalam mewujudkan visi dan ide masa depannya.
Masalah-masalah tersebut pun dapat terjadi akibat kondisi sosiologis, di mana SDGs pun telah mengadopsi tujuan kesepuluhnya, yakni reduced inequalities (mengurangi ketidaksetaraan). Perlu dilawan bahwa mental Generasi Z tidaklah lemah. Banyak perbandingan dan stereotipe yang dikeluarkan oleh generasi- generasi sebelumnya bahwa Generasi Z adalah generasi yang lemah karena tidak tahan mental. Padahal, masalah diskriminasi atas sesuatu pun tidaklah dapat diterima sebagai hal yang bisa diterima. Ketidaksetaraan yang ada perlu dikurangi, tidak memandang generasi ataupun usia berapa seseorang, asal ia sepadan dan sesuai dengan kaidah dan norma yang berlaku, mereka memiliki hak dan kewajiban masing-masing.
Stop Apartheid, Evening Standard 1974-10-30 (dok. Getty Images)
Banyak masalah terkait ketidaksetaraan timbul akibat dari tidak mampunya generasi sebelumnya menjaga kesehatan rohani berbasis pada mental seseorang. Dapat dilihat, dalam kurun waktu yang besar di abad ke-21, telah banyak konflik yang sebenarnya “tidak dewasa” sama sekali. Seperti Perang Dunia, Kebijakan Apartheid, hingga masalah lainnya yang merusak mental pejuang yang ada di tiap manusia. Hal tersebut berakar dari diskriminasi yang tidak sesuai dan sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan, yang berujung pada rusaknya kerohanian manusia.
Generasi Z dalam hal tersebut, tentunya diharapkan mampu mereduksi masalah-masalah yang bergejala panjang tersebut. Sudah menjadi pernyataan penting bahwa ketidaksetaraan adalah kebodohan, bentuk kebijakan manusia- manusia yang tidak beradab. Selanjutnya pun, aspek rohani juga bersinggungan penting dengan keberadaan tujuan SDGs kelima, yakni gender equality (kesetaraan gender). Alasan pemaparan menjelaskan kesetaraan gender setelah “mengurangi ketidaksetaraan” karena ini menyangkut hal-hal rohani tingkat tinggi. Maksudnya, permasalahan kesetaraan gender menjadi diskusi yang sangat hangat karena berhubungan dengan posisi laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat.
Keselarasan kepada rohani, berarti pula di mana manusia mengerti nilai- nilai dan hukum yang berlaku di agamanya. Generasi Z perlu didorong untuk membatasi toleransi dengan kerukunan, bukan melewati batas tersebut semata-mata ingin mencapai sesuatu. Manusia yang sehat, yang harapannya berujung pada penciptaan pendidikan yang berkualitas adalah, di mana ia mengerti bahwa laki- laki dan perempuan diciptakan setara oleh Tuhan. Namun, perlu ada penyesuaian yang terkait pada bagaimana peran dan multi-peran yang dimiliki harus diselaraskan dengan kehidupan jasmani.
Dewasa ini, isu tentang Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) sangatlah terbuka lebar. Tentunya, sebagai manusia yang beradab dan mampu menyelaraskan jasmani dan rohani, menolak gerakan-gerakan tersebut. Perihal LGBT ini menyangkut pada bagaimana tubuh yang dimiliki dalam aspek jasmani- biologis dan nilai-nilai dalam agama dalam aspek rohani-spiritual perlu diselaraskan dengan benar. Tubuh yang diciptakan untuk melakukan reproduksi serta agama yang menuntunnya perlu diselaraskan dengan benar. Laki-laki dan perempuan tidaklah elok melakukan penyimpangan, di mana Generasi Z sekarang pun memerlukan persiapan menuju hari dewasa dan melanjutkan misi kemanusiaan yang dimiliki kepada keturunannya. Termasuk di dalamnya untuk menciptakan manusia yang berakal sebagai penerus di bumi. Pun menghindari penyakit jasmani akibat tindakan-tindakan tersebut.
Konklusi
Generasi Z perlu mempertimbangkan keselarasan jasmani dan rohani untuk menciptakan pendidikan berkualitas dan mempersiapkan penerus yang berakal budi serta sehat. Keselarasan ini kunci dalam mengatasi ketidaksetaraan global dan harus menjadi dasar untuk usaha-usaha PBB seperti SDGs, dengan menekankan nilai- nilai akal dan kerohanian, sambil menjauhi perilaku negatif. Melalui usaha sederhana menjaga kemanusiaan dan memahami batasan-batasan, Generasi Z dapat menjadi teladan yang membawa perubahan positif di dunia.
Artikel ini sudah pernah tayang di Idedukasi pada 4 November 2023 dalam link berikut: https://idedukasi.com/blog-idedukasi-team/mrafieakbar/2023/11/keselarasan-jasmani-dan-rohani-solusi-untuk-pendidikan-berkualitas-bagi-generasi-z/



