Memahami Anti-Intelektualisme: Ketika Ilmu Pengetahuan Mulai Diremehkan

PENDIDIKAN

Muhammad Rafie Akbar

8/19/20263 min baca

Kita hidup pada zaman ketika informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Ironisnya, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu membuat masyarakat semakin menghargai ilmu pengetahuan. Di berbagai ruang publik, opini sering kali lebih dipercaya daripada data, sementara para ahli justru dicurigai atau diabaikan. Fenomena inilah yang dikenal sebagai anti-intelektualisme.

Definisi Anti-Intelektualisme

Dalam mengerti istilah anti-intelektualisme, kita dapat mengacu pada pendapat Prof. Richard Hofstadter yang menyampaikan definisi anti-intelektualisme dalam buku Antiintellectualism in American Life (1963) sebagai berikut:

"...a resentment and suspicion of the life of the mind and of those who are considered to represent it; and a disposition constantly to minimize the value of that life."

Berdasarkan definisi tersebut, beliau menyampaikan bahwa anti-intelektualisme adalah sikap yang ditandai oleh rasa curiga dan kebencian terhadap kehidupan intelektual serta terhadap orang-orang yang dianggap mewakilinya, disertai kecenderungan untuk terus-menerus meremehkan nilai kehidupan intelektual tersebut.

Anti-intelektualisme bukan berarti seseorang tidak pernah mengenyam pendidikan atau tidak memiliki kecerdasan. Secara sederhana, anti-intelektualisme adalah kecenderungan meremehkan kehidupan intelektual, proses berpikir kritis, serta mereka yang mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan. Seseorang tetap dapat bersikap anti-intelektual meskipun memiliki gelar pendidikan tinggi apabila ia menolak ilmu pengetahuan tanpa dasar yang rasional.

Tiga Bentuk Anti-Intelektualisme

Mengembangkan gagasan Hofstadter, sosiolog Prof. Dr. Daniel Rigney, melalui artikelnya Three Kinds of Anti-Intellectualism: Rethinking Hofstadter (1991), menjelaskan bahwa anti-intelektualisme bukanlah satu fenomena yang tunggal atau berdiri sendiri. Menurutnya, anti-intelektualisme dapat muncul dalam tiga bentuk utama.

Pertama, anti-rasionalisme (anti-rationalism). Bentuk ini muncul ketika kemampuan berpikir kritis dianggap dapat mengancam keyakinan yang telah diyakini sebagai kebenaran mutlak. Dalam kondisi demikian, proses bertanya, menguji, atau mengkritik justru dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya karena dikhawatirkan menggoyahkan kepercayaan yang sudah mapan. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan kritis sering dipandang sebagai ancaman terhadap keyakinan, bukan sebagai bagian dari proses mencari kebenaran.

Kedua, anti-elitisme (anti-elistism). Pada bentuk ini, sasaran utamanya bukan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan orang-orang yang dianggap mewakili dunia intelektual, seperti akademisi, ilmuwan, atau para ahli. Mereka dipersepsikan sebagai kelompok elit yang jauh dari kehidupan masyarakat sehingga pendapat mereka sering kali dicurigai atau ditolak, meskipun didukung oleh bukti yang kuat. Misalnya, ketika seseorang langsung menolak pendapat ilmuwan hanya karena menganggap mereka bagian dari "elit" tanpa terlebih dahulu menilai kualitas argumennya.

Namun, bentuk ketiga menurut Rigney justru terasa paling relevan dengan kehidupan modern saat ini, yaitu instrumentalisme tanpa refleksi (unreflective instrumentalism).

Ironi Unreflective Instrumentalism di Era Kini

Dalam bentuk yang telah disebut terakhir, yakni instrumentalisme tanpa refleksi (unreflective instrumentalism), ilmu pengetahuan hanya dihargai apabila menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung, seperti keuntungan ekonomi, pekerjaan, teknologi, atau peningkatan produktivitas. Sebaliknya, bidang-bidang yang mendorong pemikiran kritis, refleksi filosofis, atau pertimbangan etis sering kali dianggap tidak berguna karena tidak menghasilkan manfaat praktis secara instan.

Cara pandang seperti ini perlahan mengubah makna pendidikan. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, reflektif, dan bijaksana, melainkan sekadar sarana untuk memperoleh ijazah dan pekerjaan. Akibatnya, keberhasilan pendidikan lebih sering diukur dari seberapa cepat seseorang memasuki dunia kerja daripada dari sejauh mana ia mampu berpikir kritis, memecahkan persoalan secara rasional, serta berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan masyarakat.

Penelitian pun dinilai penting hanya jika mampu menghasilkan keuntungan ekonomi atau solusi praktis dalam waktu singkat. Padahal, banyak kemajuan besar dalam sejarah lahir dari penelitian dasar yang manfaatnya baru dirasakan bertahun-tahun bahkan puluhan tahun kemudian. Contohnya, artificial intelligence atau akal imitasi hanyalah "fantasi" penelitian terkait teknologi pada masa lalu yang kini digunakan oleh seluruh umat manusia modern.

Ironisnya, fenomena ini menjelaskan mengapa seseorang yang telah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi tetap dapat menunjukkan kecenderungan anti-intelektual. Pendidikan formal memang memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi belum tentu menumbuhkan budaya intelektual. Budaya intelektual menuntut kebiasaan untuk mempertanyakan informasi, menghargai bukti, menguji argumen, serta bersedia mengubah pendapat ketika dihadapkan pada data yang lebih kuat.

Akibatnya, pengambilan keputusan dalam masyarakat dapat bergeser dari pendekatan berbasis bukti menuju pendekatan yang lebih dipengaruhi emosi, kepentingan sesaat, atau preferensi kelompok. Padahal, hampir seluruh kemajuan peradaban manusia, mulai dari ilmu kedokteran, teknologi, sistem hukum, hingga pendidikan, dibangun melalui proses berpikir kritis, penelitian, dan dialog ilmiah yang panjang.

Refleksi Akhir: Mengapa Budaya Berpikir Itu Penting?

Tentu saja, menghargai ilmu pengetahuan bukan berarti menganggap para ilmuwan selalu benar. Justru tradisi intelektual berkembang melalui kritik, perdebatan, dan pengujian yang terus-menerus. Yang membedakan tradisi intelektual dengan anti-intelektualisme adalah bahwa kritik dalam tradisi intelektual selalu berusaha bertumpu pada argumentasi yang logis, bukti yang memadai, dan keterbukaan terhadap koreksi.

Pada era media sosial seperti sekarang, tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi sekadar memperoleh akses terhadap informasi, melainkan kemampuan untuk membedakan mana pengetahuan yang dibangun melalui proses ilmiah dan mana sekadar opini yang diperkuat oleh algoritma. Semakin mudah informasi disebarkan, semakin penting pula kemampuan berpikir kritis.

Karena itu, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan manusia yang gemar bertanya, bersedia belajar, serta tidak takut mengoreksi keyakinannya ketika dihadapkan pada fakta yang lebih kuat. Pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya sekolah dan universitas, melainkan oleh sejauh mana masyarakatnya menghargai ilmu pengetahuan sebagai landasan berpikir dan dasar dalam mengambil keputusan.

Kontak Kolaborasi

Saya menyambut kolaborasi penelitian, diskusi ilmiah, serta berbagai peluang kerja sama yang relevan dengan bidang keahlian dan minat saya.

© 2012 - 2026. Muhammad Rafie Akbar.
Hak cipta dilindungi undang-undang.