3 Juli Sesungguhnya Perayaan Tentang Sosok yang Melahirkanku
REFLEKSI


Tahun ini adalah tahun pertama ulang tahunku tanpa Mama, momen pertama di mana ia tidak lagi ada di dunia. Tanggal 3 Juli 2002, pukul delapan pagi, Mama mengantarkanku hadir ke dunia atas takdir Allah. Kini sudah berusia 24 tahun yang sebenarnya masih sangat singkat, harus kurelakan untuk dirayakan tanpa dirinya lagi. Terakhir kali aku tidak merayakan ulang tahun bersama Mama adalah pada tahun 2023, saat itu aku sedang berada di Malaysia untuk studi pertukaran mahasiswa. Namun bedanya dibandingkan saat itu, sekarang raganya benar-benar tidak ada lagi.
Angka 3 pada bulan Juli ini sangatlah berarti. Tepat empat bulan yang lalu, 3 Maret 2026, Mama meninggalkan kami selamanya. Aku tidak pernah mengira secepat itu. Tentunya kehilangan Mama membuatku merenungi berbagai macam hal tentang bagaimana caraku memandang hidup di dunia. Bahwa kehidupan ada start dan over, namun tidak mungkin bisa start over kecuali di dimensi baru nantinya. Segala pengalaman, keputusan, kisah, cerita, penderitaan, kenangan, dan hal-hal yang pernah kita lakukan bersama banyak orang akan menjadi sebuah kumpulan momen yang tidak bisa terulang.
Banyak sekali keputusan yang kita sesali ketika kita menjalani kehidupan. Konsekuensi dari berbagai keputusan itu seringkali masih terasa. Namun itulah yang kusyukuri selama 23 tahun belakangan hidup bersama Mama, aku dibantu dan diarahkan dalam mencapai segala pencapaian yang sudah kuterima. Semuanya berkat Allah yang mengarahkan Mama sebagai ibu terbaik bagi diriku dan adik-adik.
Tentang Setahun Belakangan
Ulang tahunku tahun lalu (2024), kami rayakan secara sederhana di rumah. Bersama Mama, Zizie, Faathir, dan dua temanku, Alvi dan Andini, kami memotong kue brownies dan membuka kado yang mereka berikan. Sampai sekarang, dua balon angka 2 dan 3 masih kusimpan dalam kamar. Aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir kalinya aku akan tertawa bersama Mama di hari spesial setahun sekali milikku itu.
Beberapa hari setelahnya, ada kabar gembira tentang usahaku beberapa belakangan setelah melewati banyak tahap seleksi untuk mengikuti suatu program. Hingga akhirnya, aku dikabari oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI bahwa keputusan sudah bulat: aku menjadi Calon Utama Delegasi Sumatera Utara untuk Australia-Indonesia Youth Exchange Program 2025. Menjadi salah satu dari 21 pemuda lainnya yang akan diberangkatkan ke Australia pada bulan Oktober 2025. Tentu saja, masa itu sangatlah menggembirakan. Mama memelukku dengan bangga atas pencapaian baruku ini.
Kisah baru dimulai. Aku harus mengikuti berbagai persiapan sebelum berangkat menjalani tugas negara. Aku wajib berurusan dengan berbagai pihak, termasuk panitia yang diisi oleh alumni tahun sebelumnya serta persiapan lokal yang diisi oleh para senior alumni yang pernah mewakili Provinsi Sumatera Utara. Selain itu, aku juga harus berurusan dengan berbagai pejabat negara yang ada di daerah. Aku tidak memungkiri jasa dari banyak orang lainnya, tapi peran Mama sangatlah besar. Aku sadar aku miliki privilege dan terbiasa pergi sendiri, tapi kondisi tahun lalu mewajibkan diriku menumpang kendaraan dan jalan bersama Mama untuk memenuhi semuanya. Mama menemaniku mengurus banyak berkas. Termasuk saat Mama menemaniku saat tes kesehatan di RS Bhayangkara Medan, serta mengurus SKCK ke Polda Sumatera Utara.
Sebagai calon delegasi, aku diwajibkan pula untuk latihan berbagai tarian yang sudah menjadi tradisi dalam program. Untuk mempromosikan budaya Indonesia dan khususnya pula daerahku sendiri, Sumatera Utara. Mama menemaniku membuat video sampai pagi dalam semua kesempatan. Aku pernah menangis karena rasanya ingin menyerah, karena sedari awal aku bukanlah penari. Tapi Mama selalu mengingatkan dan menguatkan bahwa kesempatan ini sudah hadir untuk diri kita dan jangan disia-siakan. Selalu saja ada titik aku ingin meluapkan semua lelah, dan Mama selalu setia di samping. Mama yang menyalakan kamera handphone untuk start hingga akhirnya selesai. Mama juga yang membantuku mencari cara untuk reach banyak pihak agar bisa mensponsori dan membiayai berbagai keperluan yang kubutuhkan.
Mama memiliki banyak teman di mana-mana. Hal ini terkadang menimbulkan kesan bahwa aku tidak mandiri dalam mencapai banyak hal. Aku sedih saat dianggap sebagai orang yang seperti itu. Aku sudah menjalani proses yang panjang bahkan sebelum program dibuka. Aku sudah membangun pengalaman di dalam dan luar negeri selama bertahun-tahun, mendapatkan nilai IELTS resmi 4 bulan sebelum pendaftaran, meraih dua gelar sarjana, dan menciptakan puluhan karya yang bisa bermanfaat dan dinikmati oleh orang banyak. Aku tidak menafikan peran doa Mama, tapi aku kecewa saat aku dianggap tidak bisa lepas dari pangkuan Mama.
Hidup harus selalu disadari bahwa tersedia dari silaturahmi dan koneksi. Aku membangun diriku dari itu dengan catatan tetap dengan kapasitas yang secara merit-based sudah kuat dan dikuatkan lebih jauh lagi dengan pihak-pihak yang bisa membantu, apalagi ini untuk sebuah tugas penting. Aku sudah mengikuti prosedur dan membuat surat resmi ke berbagai pihak dan stakeholder, namun mayoritas darinya tidak ada yang ditindaklanjuti. Sehingga, aku memakai cara yang bisa secara baik menggapai tujuanku. Tapi tidak semua orang menyukainya.
Aku tidak masalah jika serangan itu diberikan padaku pribadi. Tapi aku tidak akan bisa dengan mudah memaafkan jika itu harus meremehkan peran orangtua, khususnya Mama. Aku sudah minta maaf dengan penuh kerendahan hati jika ada hal yang tidak berkenan dan tidak sesuai, sampai ada momen aku harus terkesan "durhaka" pada Mama. Namun tetap saja ada kalimat menyakitkan yang sampai kini terngiang dalam pikiran dan hatiku, “Kalau perlu Mama tidak usah ikut ke sana”, saat aku ingin Mama hadir di acara inaugurasi keberangkatanku ke negeri kangguru di Jakarta. Mereka mengatakannya agar aku bisa membuktikan diriku ini mandiri. Padahal sebenarnya pihak yang di sana mengizinkan kehadiran orangtua.
Aku jatuh sakit beberapa momen sebelum keberangkatan untuk persiapan offline ke Jakarta. Campuran dari stres yang tertahan, beban yang melibatkan fisik dan mental, hingga pikiran yang bercampur aduk. Aku akhirnya harus merasakan infus sebanyak dua botol dan disuntik oleh berbagai vitamin. Aku juga harus diberi nebulizer uap. Mama menemaniku beberapa jam di klinik karena alhamdulillah tidak perlu rawat inap. Peran Mama saat itu sangat menenangkan pikiran dan menguatkan fisik diriku ini untuk bertahan. Walau kutahu, saat itu Mama juga pusing dengan berbagai urusan yang mungkin tidak ia ceritakan.
Setiap malam sebelum kembali ke kamarku dan tidur, aku selalu mengobrol dengan Mama dan memijat punggung hingga kakinya. Pada suatu kesempatan seminggu sebelum ke Jakarta, aku sempat bertanya: “Mama izinkan Rafie berangkat, kan?”. Aku bertanya agar mendapatkan izin yang paling tulus. Mama menjawab, “Iya sayang, Uda udah berusaha sejauh ini. Nggak usah dengar kata orang. Mama selalu doain Uda.”
Mama, Faathir, dan aku pergi berangkat ke Jakarta. Setelah sampai di Bandara Soekarno-Hatta, kami mampir sebentar ke rumah saudara kami. Aku setelahnya diantar ke Pusdiklat LAN untuk menjalani persiapan seminggu sebelum berangkat ke Australia. Mama dan Faathir melanjutkan perjalanan ke Bandung untuk menyiapkan Faathir simulasi tes psikologi di Dinas Psikologi TNI AD, Bandung. Mama akan kembali ke Jakarta saat hari H inaugurasi.
Ada kisah yang paling menarik saat di LAN, beberapa jam sebelum acara inaugurasi diadakan, sol sepatu pantofel milikku rusak. Kupercaya imbas karena sudah digunakan latihan berkali-kali. Aku panik dan tidak tahu lagi bagaimana caranya. Aku meminta tolong Kak Dwiki, salah seorang seniorku, yang akhirnya menyediakan lem sepatu agar berjaga-jaga. Tapi karena keraguanku, aku tetap menelpon Mama dan adikku Faathir untuk titip belikan sepatu pantofel baru. Sepatu baruku itu baru sampai 30 menit sebelum acara inaugurasi dimulai. Aku ingin momen ini betul-betul menampilkan wajah terbaik bagi provinsi yang kuwakili.
Saat setelah kami seluruh delegasi selesai menampilkan Tari Saman, ternyata panitia menyiapkan video ucapan semangat dari para orangtua dan keluarga delegasi. Aku terharu dan menangis, ternyata Mama menyiapkan video itu. Layar akhirnya menunjukkan video Mama. Aku menoleh ke belakang tempat Mama duduk di antara para audiens. Mama tersenyum padaku.
Setelah acara inaugurasi selesai, aku memeluk Mama dan mengambil beberapa foto. Teman-teman lainnya juga mengabadikan momen dengan orangtua dan teman-temannya. Aku langsung merenungi, kalau waktu itu aku tidak memaksa Mama untuk ikut, aku mungkin tidak banyak yang akan menemani di momen sebesar ini. Kilas cepat, beberapa momen di antaranya juga bersama Fira (salah seorang seniorku dari Sumatera Utara) dan Pak Esa (Asisten Deputi dari kementerian). Senang sekali momen itu diabadikan dengan nyata. Mama yang saat muda berkuliah di Bandung, mengobrol ringan dengan Pak Esa dengan berbahasa Sunda.
Esok paginya, Mama, Faathir, dan Acha (sahabat lamaku yang tinggal di Jakarta) menjemput beberapa barang milikku di Pusdiklat LAN untuk ditinggal di Jakarta agar tidak memberatkan beban barang dalam koper. Momen itulah yang menjadi momen pamitku bersama Mama. Aku memeluk dan dicium Mama. Mendoakan agar aku lancar dalam menjalani tugas. Momen itu adalah masa aku berpisah dengan Mama untuk kurun waktu lebih dari 2 bulan.
Saat di Melbourne, aku selalu mengabari Mama, Papa, dan adik-adik. Hampir tiap hari menyempatkan diri untuk video call dengan Mama. Mama mengingatkan untuk belikan oleh-oleh untuk adik-adik dan teman-teman dekatku. Selain itu, juga selalu buat tenang saat ada beberapa hal yang membuatku lelah. Aku juga sempat mengenalkan Mama ke Bu Annie (ibu angkatku di Melbourne). Pun setelah selesai program di Australia, aku harus melanjutkan Fase Indonesia di Lampung Selatan. Mama juga sempat aku kenalkan pada Bu Lamdina (ibu angkatku di Lampung). Beberapa kali (bahkan terhitung sering) video call juga bareng Ahmed (counterpart/teman pasanganku selama di Lampung yang merupakan orang Australia).
Akhir Desember 2025, Mama menyampaikan bahwa Faathir harus tes lagi di Bandung setelah tahun baru. Mama berangkat lagi ke Jakarta. Berarti, aku bisa ikut ke Bandung untuk refreshing setelah selesai tugas delegasi. Mama menjemputku dari hotel di Jakarta dan bertemu dengan Oma Fran (Direktur Value Learning Australia) serta teman-teman delegasi lainnya. Kami berfoto bersama.
Kami pindah ke hotel lainnya dan berkeliling Jakarta. Aku juga berjalan-jalan dengan Acha, mengajak temannya Ochy, hingga di malam hari duduk di Gramedia Matraman bersama Bang Abi. Aku bertemu dengan teman-teman lamaku. Esok harinya, aku ingin merayakan tahun baru bersama Ari, Rafly, dan Hatta. Tiga sahabatku selama 6 bulan saat tinggal di Shah Alam, Malaysia beberapa tahun sebelumnya yang kini kerja di Jakarta. Mereka juga kenal sangat dekat dengan Mama. Kami berjanji untuk bertemu menyempatkan makan bersama di taman di Sarinah.
Esok harinya, 1 Januari 2026, aku nongkrong di Pos Bloc Jakarta bersama Ari (lagi) dan Tegar yang merupakan dua rekanku saat mendirikan Idedukasi dulu serta se-almamater FH USU. Mereka juga sebenarnya sahabat lamaku masing-masing saat SMA dan SMP. Kami juga akhirnya menghubungi Rizky (teman SMP-ku) yang kerja di Jakarta, untuk bergabung. Karena hotel sangat dekat dengan Pos Bloc, Mama akhirnya menyempatkan diri bertemu dengan “anak-anak”-nya ini selama setengah jam.
Banyak sekali kisah yang kujalani bersama Mama saat di Bandung. Hal ini juga menjadi istimewa karena ini adalah pertama kalinya aku ke Bandung, menginap di tempat sepupuku. Serasa bahwa pertama kali ke Bandung harus diberikan guide langsung dari Mama. Bandung menjadi sebuah kota yang punya peran besar untuk hidup Mama. Aku bisa mengingat banyak hal yang kujalani berdua dengan Mama saat di sana, utamanya saat Faathir sibuk dengan kegiatannya. Bertemu dan bersenda gurau dengan Tante Linda (sahabat masa kecil Mama), naik becak berdua untuk ke restoran Imas, merasakan kursi pijat bersama, hingga memakan eskrim. Momen-momen liburan setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Hingga akhirnya harus pulang ke Medan, menjalani banyak hari seperti biasanya. Aku mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Mengerjakan laporan, memfinalisasi buku terbaruku, hingga berbagai pekerjaan lainnya bersama Mama di beberapa kafe. Beberapa minggu terasa sangat normal seperti sebelum aku pergi ke Australia.
Malam 1 Ramadan, beberapa jam sebelum tarawih, aku menemani Mama ke Cambridge Medan untuk menghadiri acara syukuran dan munggahan bersama teman-teman Mama. Saat itu, aku menyadari Mama sepertinya sedikit kesakitan. Mama tetap ikut berpuasa esok harinya. Mama tetap membuatkan sahur. Tapi aku sadari sesuatu: Mama terlihat lebih pucat. Warna kulitnya berubah. Hingga akhirnya beberapa kali diberi obat di klinik, namun tidak mempan sama sekali.
Kisah Berdua di Rumah Sakit
Pagi hari itu, aku bersama Mama mengantar Faathir sekolah. Tiba-tiba Mama mengeluhkan perutnya sangat sakit hingga Mama mengatakan bahwa ingin diantarkan ke rumah sakit yang tidak jauh dari sini. Aku dalam hati yang terdalam sesungguhnya sangat panik, tapi aku tetap menyiapkan pikiran dengan husnudzon kepada Allah. Aku menelpon Papa dan Zizie untuk hadir membersamai. Qadarullah, ternyata Mama harus dirawat inap dan menjalani transfusi darah. Karena yang menjaga hanya diperbolehkan satu orang, aku tidak mau sama sekali lepas dari Mama. Papa dan adik-adik hadir bergantian.
Tiap detikku bersama Mama, sembari menyuapi Mama saat jam makan, menonton TV berdua (waktu itu sangat kuingat kami berbincang saat aku menonton Podcast Chronicles dari Dr. Bagus Muljadi yang sedang berbincang dengan Prof. Dr. Sulistyowati Irianto), hingga menjalani puasa Ramadan saat itu di rumah sakit. Setelah 3 (tiga) hari, Mama boleh keluar dari rumah sakit. Aku saat itu sangat senang dan mengatakan ke Mama, “Kulit Mama udah balik normal lagi”. Sembari senyum dan tertawa. Mama juga memintaku untuk fotokan beliau di kamar itu. Kami pun akhirnya pulang ke rumah.
Namun pagi hari tepat esoknya, sebelum jam makan sahur, Mama mengeluhkan ke Faathir kalau perutnya terasa sakit sekali. Kami pun akhirnya jalan ke rumah sakit yang lebih dekat dari rumah. Aku membatalkan banyak rencana saat itu untuk bisa tetap berdua dengan Mama. Ada momen yang dipenuhi oleh cerita sakit, tawa bahagia, dan berbagai momen lainnya. Mama tetap membangunkan sahur untuk tiga hari pertama. Tapi aku sudah merasakan sedih yang berat dan pikiran yang tidak karuan saat Mama harus dicek detak jantung dan kadar oksigen di hari ketiga kami di rumah sakit. Setelah CT-Scan hari itu, aku berdua saat itu bersama Mama bermalam minggu.
Paginya, hari Minggu, terasa tidak biasa. Mama tidak membangunkanku untuk sahur. Aku masih sempat makan tapi terasa ada yang sangat berbeda. Mama seperti sudah tidak bisa diajak berbicara lagi. Aku dipanggil seorang dokter jaga dan berbicara berdua secara tatap muka denganku, “Bang, sepertinya ibu sudah dalam kondisi yang kritis. Harus dibawa ke ICU.” Pikiranku hancur, tangisan terasa keluar, dan aku telpon Papa dan adik-adik untuk segera ke rumah sakit pagi itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, itu hari terburuk yang pernah kurasakan.
Aku tidak berhenti berdoa namun juga mulai menerima keadaan yang ada. Bahwa seminggu belakangan aku masih diberikan waktu oleh Allah untuk berbakti kepada Mama. Membersamainya di detik-detik terakhir masa hidupnya. Melihat berbagai tantangan yang dirasakannya. Bahwa pada akhirnya, aku bersyukur untuk selalu ada di sisi Mama dalam keadaan apapun.
Akhir yang Baik
Mama menghembuskan nafas terakhirnya hari Selasa pagi, 3 Maret 2026. Perjuangannya melawan kanker sudah diberi akhir yang baik dari Allah. Momen paling menyedihkan sekaligus melegakan bagiku. Bahwa aku bisa menyaksikan dan mendoakan beliau berhari-hari dengan membaca yasin dan membantunya mengucap dua kalimat syahadat. Aku selalu bersyukur Allah memberikanku waktu untuk bisa dekat dengan Mama, merasakan momen jatuh dan bahagia, hingga kesenangan yang tiada tara. Aku bersyukur juga sudah di Medan saat itu. Aku ingin membuktikan bahwa Mama tidak gagal dalam mendidikku.
Sebelum Mama akhirnya dimakamkan, aku juga merasakan ketenangan dan begitu pula kegembiraan bahwa Mama diwafatkan pada bulan Ramadan. Aku juga bahagia bahwa Allah mengizinkanku untuk mengimami Mama untuk salat jenazahnya dengan ratusan jamaah dari teman-teman hingga anak-anaknya yang hadir. Pendidikan yang Mama sudah berikan padaku sejak kecil hingga dewasa, kini akan selalu berguna.
Belajar untuk rendah hati walau orang suka menyepelekan, tetap tegas dengan prinsip, juga kenyataan untuk terus memberikan kebahagiaan dan kesetaraan hormat kepada seorang cleaning service di sebuah tempat sampai pejabat tinggi sekalipun. Tidak perlu gengsi jika itu untuk menyebarkan kebaikan. Oleh karena itu, pesan-pesan yang ada itu akan berujung pula pada kesadaran bahwa aku tidak mau mengecewakan Mama sampai kapanpun itu.
Terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan Rafie di dunia, Ma. Insya Allah kita akan bertemu lagi.
Love you, Ma.




















Kontak Kolaborasi
Saya menyambut kolaborasi penelitian, diskusi ilmiah, serta berbagai peluang kerja sama yang relevan dengan bidang keahlian dan minat saya.
© 2012 - 2026. Muhammad Rafie Akbar.
Hak cipta dilindungi undang-undang.